Selasa, 11 Januari 2011

Tentang Kabupaten Pelalawan


GAMBARAN UMUM TENTANG PELALAWAN

Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten yang baru dimekarkan di wilayah Propinsi Riau. Dengan disahkan Undang-undang Nomor 53 tahun 1999, maka mulai tanggal 12 Oktober 1999 resmilah Kabupaten Pelalawan memisahkan diri dari Kabupaten Kampar

Dengan ditetapkan Pangkalan Kerinci sebagai ibukota Kabupaten, Pelalawan mulai berpacu mengejar segala bentuk ketertinggalan dan keterbelakangan yang selama ini menyelimuti segala sektor kehidupan.

Kabupaten Pelalawan berawal dari nama sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Pelalawan yang pusat kerajaannya berada di pinggiran sungai Kampar.. Kerajaan ini adalah pewaris dari Kerajaan Kampar di

Pekan Tua. Kerajaan Pelalawan berdiri tahun 1725 dan mulai terkenal semasa pemerintahan Sultan Syed Abdurrahmman yang bergelar assyaidis Syarif Abdurrahman Fachrudin yang memerintah ditahun 1811 – 1822. sedangkan Raja terakhir Kerajaan Pelalawan adalah Tengku Said Haroen dengan gelar Assyaidis Syarif Haroen bin Hasyim Fachrudin Tengku Besar Kerajaan Pelalawan yang memerintah pada tahun 1940 – 1945. Pada saat kemerdekaan Republik Indonesia Tengku Said Haroen bersama orang besar kerajaan Pelalawan menyampaikan Pernyataan Taat Setia dan Bersatu dalam Negara Republik Indonesia yaitu pada tanggal 20 Oktober 1945. Beliau mangkat pada tanggal 21 November tahun 1959 bertepatan dengan tanggal 20 Jumadil Awal 1370 H di Istananya di Pelalawan. Atas Jasa-jasanya kepada bangsa dan negaranya, melalui musyawarah Orang-orang Besar Kerajaan beliau diberi gelar “MARHUM SETIA NEGARA”.

Dengan luas wilayahnya lebih kurang 12.490,42 Km² pada saat ini telah berkembang menjadi 12 Kecamatan, yakni : Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kecamatan Langgam, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kecamatan Pelalawan’ Kecamatan Bunut, Kecamatan Ukui, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kecamatan Kerumutan, Kecamatan Teluk Meranti, Kecamatan Kuala Kampar Kecamatan Bandar Sikijang dan Kecamatan Bandar Petalangan.

Posisi yang sangat strategis yaitu berada dijalur Lintas Timur Sumatera dan berbatasan dengan Propinsi Kepulauan Riau dan Negara Tetangga merupakan modal dasar dan keunggulan bagi Kabupaten Pelalawan untuk mengembangkan Pembangunan di segala Sektor. Kabupaten ini terbentang di daratan tengah pulau Sumatera belahan Timur yang berbatasan dengan :

• Sebelah Timur dengan Kabupaten Karimun dan selat Melaka.
• Sebelah Barat dengan Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru.
• Sebelah Utara dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Bengkalis.
• Sebelah Selatan dengan Kabupaten Inderagiri Hulu dan Inderagiri Hilir.

Penduduk asli terdiri dari orang Melayu yang terbagi dalam dua wilayah adat, yaitu masyarakat Adat Melayu Pesisir dan Masyarakat Adat Melayu Petalangan, seiring dengan perkembangan daerah terjadi mobilisasi penduduk dari berbagai suku dan daerah seperti: Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Jawa dan lain-lain. Dengan jumlah penduduk pada saat ini lebih kurang 208.373,- jiwa.

Kabupaten ini dialiri sungai Kampar dengan beberapa anak sungainya memberi karakteristik tersendiri terhadap kehidupan penduduknya. Dimana sebagian penduduk asli banyak bergantung kepada kekayaan dan keragaman sumber daya perairan serta kekayaan dan keragaman hasil hutan bagi yang tinggal di daratan/pedalaman. Untuk mencapai Ibukota Kabupaten Pelalawan (Pangkalan Kerinci) dapat ditempuh melalui beberapa pintu masuk :

a. Darat :
- Melalui Kota Pekanbaru melewati jalan raya lintas timur
- Melalui Kota Jambi/Rengat (Inhu) melalui jalan raya Lintas Timur.
b. Laut/Sungai
- Melalui Penyalai di Kuala Kampar
- Melaui Tolam, Pelalawan di Kecamatan Pelalawan.
- Melalui Sungai Teratak Buluh Kabupaten Kampar
c. Udara
- Melalui Bandar Udara Sultan Syarief Haroen di Komplek PT. RAPP (Riau Andalan Pulp and Papper)

PESONA SEMULA JADI KABUPATEN PELALAWAN

WISATA ALAM (Petualangan Menyusuri Sungai Kampar)
Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten yang dilalui Sungai Kampar. Sungai yang panjangnya 413,5 Km dengan kedalaman rata-rata 7,7 meter ini berhulu di Propinsi Sumatera Barat dan Bermuara di Selat Melaka.

Sungai Kampar dengan anak-anak sungainya yang kaya akan sumber daya hayati, juga banyak terdapat danau dan tasik yang indah serta memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan-wisatawan yang hobi berpetualang. Sungai ini merentang dan membelah beberapa wilayah Kecamatan diantaranya :

LANGGAM.
Bagi Wisatawan yang memulai kunjungan kedesa Langgam dapat memasuki wilayah ini dari tiga pintu masuk, yaitu dari :

- Pekanbaru memakai kendaraan darat langsung ke Langgam,
- Kabupaten Kuantan Singgi juga melalui jalan darat
- kota Pangkalan Kerinci melalui jalur darat dan sungai.

Sebagai kota tua peninggalan Kerajaan Tambak yang terkenal dengan kolam tujuhnya, wisatawan juga dapat menikmati keindahan danaunya.

DANAU TAJWID
Tidak jauh dari Desa Langgam lebih kurang 10 menit memudiki aliran sungai Kampar terdapat sebuah danau yaitu Danau Tajwid.

Suasana danau yang tenang dengan rumah rakit kelompok nelayan yang mengolah hasil tangkapan menjadi ciri khas danau ini.

Danau ini merupakan asset desa yang setiap tahunnya dilelang pada kelompok nelayan, dimana dana yang diperoleh dari lelang tersebut akan digunakan untuk pembangunan desa. Dan bagi wisatawan dapat memancing didanau ini setelah mendapat izin dari pucuk adat atau kelompok nelayan yang memenangkan lelang.

HUTAN RAWA SUNGAI MOKOH
Suatu panorama hutan rawa dihamparan rawa disepanjang sungai mokoh dengan rumah-rumah panggung sederhana yang memberikan kesan sejuk dan alami. Bagi wisatawan yang mempunyai jiwa petualang dapat menyusuri rawa ini dengan bersampan. sambil memancing ikan dan udang galah yang banyak terdapat di sini..

PANGKALAN KERINCI.
Sebagai Ibukota Kabupaten Pelalawan, Pusat Pemerintahan, Industri dan Perdagangan, Pangkalan Kerinci menebar pesona tersendiri bagi para pendatang. Dengan letaknya yang strategis dan terdapatnya Pabrik kertas terbesar di Asia Tenggara membuat kota ini bagaikan gula yang dikerubungi semut.

Bagi yang ingin memanjakan selera dengan masakan-masakan khas daerah Pelalawan yang terkenal lezat dan alami dapat menikmatinya di Kota Pangkalan Kerinci dengan menu khas sempedas Patin (Ikan Patin Kunyit/Ikan Patin Kualo), Udang Galah dan Ikan Salai.

Sebagai Ibukota Kabupaten di Kota Pangkalan Kerinci juga terdapat fasilitas penunjang lainnya, seperti Taman Pemandian/ Kolam Renang, Fitnes Center, dan lain-lain.

Disini juga terdapat Danau yang masih perawan, indah dan menawan yaitu :
DANAU TANJUNG PUTUS. Memasuki Kota Pangkalan Kerinci dari Langgam melalui Sungai Kampar kita akan disajikan dengan panorama alam yang mempesona dan menakjubkan denga melewati hamparan kebun dan juga perkampungan penduduk tempatan di sepanjang aliran sungai dengan beragam kegiatannya. Wisatawan kembali dapat menikmati keheningan Danau Tanjung Putus Atau melihat kehidupan/perkampungan masyarakat di kuala terusan (pemukiman lama) serta beristirahat di pulau yang berada di tengah Sungai Kampar yang dikenal dengan Pulau Senang. yang hanya berjarak sekitar 5 Km dari Kota Pangkalan Kerinci.

DESA PELALAWAN
Desa Pelalawan terletak di pinggiran sungai Kampar dapat ditempuh dari ibukota Kabupaten (Kota Pangkalan Kerinci) melalui transportasi air/sungai dengan menggunakan speed boat, kapal motor juga dapat ditempuh melalui jalan darat dengan kenderaan roda 2 maupun roda empat dengan jarak tempuh sekitar 45 menit.

Desa Pelalawan ini dulunya merupakan pusat dari Kerajaan Pelalawan yang memerintah sejak tahun 1811 s/d 1945. Kerajaan ini berakhir dengan diproklamasikannya Republik Indonesia pada tahun 1945.

Sebagai Pusat kerajaan disini terdapat banyak objek wisata sejarah yang dapat dikunjungi, diantaranya :

• Makam Raja-raja Pelalawan
• Bangunan Istana Sayap, sebagai pusat Pemerintahan Kerajaan Pelalawan.
• Meriam Peninggalan Kerajaan Pelalawan

DESA PEKAN TUA
Menghilir sungai dari Desa Pelalawan lebih kurang 35 menit dengan menggunakan speed boat, kita akan sampai di Dusun Pekan Tua.
Dahulunya Pekan Tua merupakan sebuah kerajaan yang ditaklukkan oleh kerajaan Melaka. Kerajaan Pekan Tua ini didirikan oleh Maharaja Indra (1380) yang datang dari Tumasik (Singapura). Beliau kemudian diganti oleh putranya Maharaja Pura, kemudian berturut-turut memerintah Maharaja Wangsa, Maharaja Lela, Maharaja Syisa dan Maharaja Jaya.

Dijaman Maharaja Jaya inilah Kerajaan Pekan Tua diserang dan ditaklukkan oleh Melaka. Setelah Raja Abdullah (Melaka) ditawan oleh Portugis maka yang memerintah Pekan Tua adalah mangkubumi Tun Perkasa, kemudian digantikan oleh putranya Tun Hitam dan Tun Megat. Setelah Sultan Alauddin Riayat Syah II membangun Negeri Johor yang menjadi Raja di Pekan Tua ialah Tun Megat, kemudian diganti oleh putranya Tun Mahadewa. Setelah itu Tun Mahadewa digantikan oleh Tun Perkasa alam.

Berdasarkan beberapa sumber penulisan sejarah, maka dapat diartikan bahwa negeri Pekan Tua adalah pusat pemerintahan dari sebuah kerajaan di daerah sungai Kampar, dan kerajaan inilah yang dinamakan Kerajaan Kampar, yang berkelanjutan sehingga kemudian menjadi Kerajaan Pelalawan.
Di Dusun Pekan Tua inilah dimakamkan Sultan Mahmud Syah I. Dalam Sejarah Melaka Sultan Mahmud Syah adalah Raja Melaka yang kedelapan dan yang terakhir (1488-1511) sedangkan dalam sejarah Johor beliau merupakan Raja Johor yang pertama (1511 – 1528).

Dalam Buku “Sejarah Johor” yang ditulis oleh Haji Buyong bin Adil diterangkan bahwa setelah Melaka dikalahkan oleh Portugis pada tahun 1511, Sultan Mahmud Syah I dan putranya Sultan Ahmad Syah beserta para pengikutnya yang setia mengundurkan diri dan membuat pertahanan untuk menangkis dan menyerang Portugis. Pada bulan September tahun 1527, Sultan Mahmud beserta dengan anak dan istri serta orang-orang besar kerajaannya menetap di negeri Kampar tepatnya di Dusun Pekan Tua. Disini baginda menempati istana asal yang dipunyai oleh saudara baginda almarhum Sultan Munawar Syah, Sultan Kampar. Beliau mangkat pada tahun 1528 dan dimakamkan di Dusun Pekan Tua.

BONO
Dari Dusun Pekan Tua, kita melayari sungai Kampar ke Hilir Menuju Teluk Meranti hingga ke Kuala Kampar, akan memberikan suatu pengalaman yang tidak akan kita temui di sungai manapun di Indonesia. Selain disajikan panorama yang indah di sepanjang pinggiran sungai, pada waktu tertentu kita juga akan bertemu dan melewati “BONO”. Bagi Wisatawan yang suka akan tantangan dapat menguji nyali di sini.

Bono adalah alunan gelombang besar yang terjadi bersamaan dengan pasang naik dan pasang surut dengan ketinggian puncak gelombangnya mencapai 4 – 6 meter. Rentangan gelombang tersebut hampir selebar sungai Kampar. Gelombang ini terjadi akibat benturan tiga arus air, yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan Aliran Air Sungai Kampar yang berbenturan di muara sungai Kampar dengan menimbulkan gelombang besar yang menggulung dan menghempas jauh kedalam sungai sehingga dapat menggulung dan menenggelamkan perahu serta kapal-kapal baik besar maupun kecil.

Untuk itu jika sedang berada di sekitar daerah Bono, kemudian terdengar suara deru gelombang yang menggemuruh dari arah muara/kuala sungai, segeralah bersiap-siap mencari perlindungan ditempat yang aman yaitu dengan tetap di sungai dengan mencari daerah yang airnya dalam atau kembali ke darat dengan sekaligus membawa perahunya ke darat agar tidak digulung oleh Bono.

Menurut legenda, konon Bono di sungai Kampar adalah Bono Jantan sedangkan Bono betinanya berada di sungai Rokan. Bono di sungai Kampar dulunya berjumlah 7 (tujuh) ekor dan yang satunya ditembak oleh orang Belanda sehingga yang tinggal sekarang hanya 6 (enam) ekor. Di musim Pasang mati Bono ini pergi menuju betinanya di sungai Rokan, kemudian bercengkrama di Selat Melaka. Apabila pasang mulai membesar kembalilah mereka ke tempat masing-masing, semakin besar arus pasang semakin gembiralah mereka berpacu memudiki sungai.

Bagi masyarakat tempatan yang sudah terbiasa dengan kedatangan Bono dan bernyali besar. Kedatangan Bono disambut dengan memacukan kapal motornya meluncur ke lidah ombak di punggung Bono bagaikan pemain selancar, atraksi ini oleh penduduk tempatan disebut “BEKUDO BONO”, Karena mirip dengan atraksi seorang joki yang sedang berusaha menjinakkan kuda liar. Bono ini dapat dilihat pada setiap bulan pada saat terjadi pasang besar, namun pada akhir tahun atau pada musim Barat, Bono akan terjadi lebih besar.

TASIK SARANG BURUNG
Dari Desa Teluk Meranti Memudiki anak sungai kita akan sampai ke Tasik sarang Burung. Tasik ini merupakan tempat migrasi burung-burung endemic dari belahan benua Australia ketika musim Salju melanda benua tersebut. Hutan disekitar tasik ini ditumbuhi berbagai jenis kayu-kayuan antara lain :
- Ramin (Gonystillus Bancanus Kurz)
- Suntai (Palaqium Waisurifollum)
- Kempas (Kompassia Malaccaensis Maing)
- Meranti (Shorea Sp)
- Bintangur (Calophyllum Sp), dan lain-lain.

Disini juga terdapat satwa-satwa yang dilindungi, seperti :
- Beruang Madu (Helarctos Malayanus)
- Trenggeling (Manis Javanica)
- Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis)
- Burung Enggang (Buceros Rhiniceros)
- Belibis (Dendrocybina Javanica)
- Ikan Arwana (Schleropagus Formasus)

Kawasan ini bertopografi datar dan merupakan ekosistem hutan dataran rendah dengan type ekosistem rawa gambut seluas ± 6.900 Ha.

SUAKA MARGA SATWA KERUMUTAN
Suaka Marga Satwa Kerumutan terletak di Desa Kerumutan, lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari Pangkallan Kerinci selama lebih kurang 2 jam perjalanan melalui jalan tanah berbatu. Dari Pekanbaru dapat ditempuh dari desa Pangkalan Kopan dengan waktu selama lebih kurang 4 jam.

Luas Hutan ± 93.222.20 Ha merupakan hutan perawan yang ditumbuhi aneka macam pepohonan dan hewan yang dilindungi diantaranya :
Flora :
- Meranti (Shorea Sp)
- Punak (Tetrameriota Glabra Mig)
- Perupuk (Solena Permum Javanicum)
- Nipah (Nypa Fructicons)
- Rengas (Gluta Rengas)
- Pandan (Pandanus Sp), dll
Fauna :
- Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis)
- Harimau Dahan (Neovoles Nebulosa)
- Beruang Madu ( Helarctos Malayanus)
- Enggang (Buceros Rhinoceros)
- Monyet (Mocacafa Scicularis)
- Kuntul Putih (Egretta Intermedia)
- Ikan Arwana (Slhleropoges Formasus)
- Owa (Hylobutes Moloch)
- Itik Liar ( Cairina scutulata)
Di lokasi hutan ini terdapat sungai Kerumutan yang membujur dari Barat ke Timur dan selalu banyak burung yang bermain dan mencari makan di sana.

TUGU EQUATOR DAN SUMBER AIR PANAS
Sekitar ± 56 Km dari Pangkalan Kerinci menelusuri jalan Lintas Timur, tepatnya di Dusun Tua, Kita akan menjumpai Lintasan Khatulistiwa (Equator).

Daerah lintasan Equator ini pertama kali ditemukan oleh Bangsa Belanda, pada saat itu dibuat tanda berbentuk besi melingkar merupakan gerbang yang sekaligus menghubungkan dua desa yaitu Desa (Dusun) Tua di sisi Timur jalan dan Desa Pangkalan Lesung di sisi Barat jalan. Pada saat ini besi tersebut telah diganti dengan bangunan berbentuk Tugu. Disekitar Tugu dibangun taman dan rumah yang berfungsi untuk peristirahatan/melepas lelah bagi wisatawan sambil menikmati segarnya madu lebah asli yang selalu tersedia di sana.

Tidak jauh dari Tugu Equator atau ± 7 Km ke arah Barat di Desa Pangkalan Lesung dapat ditemui sumber air panas yang belum tergarap dan terkelola secara layak. Untuk saat ini objek tersebut telah dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat melalui jalan pengerasan (berbatu). Sumber air panas ini juga berkhasiat sebagai obat penyembuh bagi mereka yang menderita penyakit kulit.

DESA BETUNG
Desa ini berjarak ± 30 Km dari tugu Equator kearah Kota Sorek atau ± 58 Km dari Kota Pangkalan Kerinci (Ibukota Kabupaten Pelalawan) termasuk dalam wilayah Kecamatan Pangkalan Kuras. Desa Betung Merupakan Desa Wisata yang penduduk aslinya terdiri dari Masyarakat Adat Melayu Petalangan.

Di Desa Betung dapat ditemui aneka ragam Seni Budaya Asli yang masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat setempat. Berbagai Upacara Adat Masyarakat Petalangan yang dapat dinikmati oleh wisatawan, seperti Upacara Pengobatan Tradisional yang dikenal dengan Belian, Bedewo, Nyanyian Panjang, Atraksi Silat Payung, Menumbai Madu (menyapu pohon Sialang untuk mengambil Madu). Di Desa ini juga terkenal dengan kerajinan anyam-anyaman dengan bahan baku dari rotan, pandan, bambo, kopau yang memang banyak terdapat di desa tersebut.. Selain itu di Desa Betung juga terdapat Hutan Adat yang disebut dengan Hutan Kepungan, yang juga merupakan tempat Lebah Liar untuk membuat sarang pada pohon-pohon sialang yang banyak terdapat di areal tersebut.

PENGOBATAN TRADISIONAL BELIAN
Merupakan Tradisi Masyarakat Suku Petalangan untuk mengobati penyakit, yaitu dengan memanggil makhluk halus agar masuk ke tubuh manusia sebagai perantara/ media untuk mengetahui penyebab penyakit dan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Ritual ini melibatkan seorang Bomo yang disebut dengan Kemantan, seorang bidu yang disebut dengan pebayu dan seorang penabuh gendang Belian. Sebelum ritual pengobatan dilakukan terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan yaitu membuat balai-balai berbentuk rumah-rumahan, perahu layar dan lainnya yang terbuat dari pelepas batang asam paya (Asam Gelubi), dan membuat janur dari daun Kopau serta perlengkapan ritual lainnya.

Pada awalnya Sang Bomo duduk bersila dan berselubung dengan kain panjang, ditangannya tergemgan mayang pinang, bertih serta gelang yang mengeluarkan suara bergemerincing yang terdapat dilengan tangan dan kakinya.

Pada saat gendang ditabuh, kemantan memulai ritual dengan menabur bertih dan pembancaan mantera-mantera yang didendangkan. Setelah makhluk halus yang dipanggil masuk ketubuh kemantan, iapun mulai berdiri dan menari sambil melambai-lambaikan mayang dan alat bunyi gemerincing di tangannya.

Sedangkan Pebayu bertugas menyiramkan bertih ke tubuh kemantan dan sebagai penterjemah komunikasi antara kemantan dengan si sakit Biasanya Pengobatan dilakukan setelah makhluk halus yang berada ditubuh kemantan selesai menari dan berdendang.

Ritual pengobatan belian ini dilakukan pada malam hari, yang terdiri dari Ritual Belian Biasa dan Belian Besar. Ritual Belian Biasa untuk mengobati masyarakat yang mengalami sakit, sedangkan Ritual Belian Besar dilaksanakan untuk mengobati salah satu kemantan yang sakit dengan membuat balai-balai sesuai dengan petunjuk yang diterima oleh kemantan yang dituakan pada ritual tersebut.

MENUMBAI
Menumbai adalah kegiatan mengambil madu lebah di pohon sialang, yaitu sejenis pohon yang tinggi dan merupakan tempat yang disenangi oleh lebah liar untuk bersarang.

Sebelum memanjat pohon sialang untuk mengambil madu, terlebih dahulu dipersiapkan peralatan sebagai berikut :
- Timbo (ember), untuk menampung sarang dan madu lebah.
- Tali panjang, untuk menurunkan timbo yang telah terisi madu
- Tunu/tunam (sabut kelapa dipasang diujung galah dan dibakar untuk mendapatkan bara api dan asap) sebagai alat pengusir lebah.
- Semangkat/tangga panjang, alat Bantu untuk memudahkan memanjat pohon sialang.

Kegiatan menumbai dipimpin oleh seorang yang dituakan yang disebut dengan Juragan Tuo (juru panjat). Juragan Tuo dibantu oleh beberapa juru panjat lainnya yang disebut juragan mudo yang bertugas membantu juragan tuo pada saat menyapu lebah, dan di bawah dibantu pula beberapa orang sebagai pengumpul timbo yang berisi madu yang diturunkan melalui tali ke bawah.

Upacara menumbai ini dilakukan pada malam hari di saat bulan gelap. Terdapat suatu kepercayaan bahwa di pohon sialang selalu didiami pula oleh makhluk halus dan waktu melakukan menumbai sering pula berhadapan dengan hal-hal yang ghaib, maka untuk itu pada setiap tahapan memanjat pohon selalu diirngi dengan membaca monto (mantera), dengan tahapan sebagai berikut :

Tahap I :
Dipangkal pohon sebelum memanjat didendangkan monto oleh Juragan Mudo.

Papat-papat tanah ibu
Mai papat di tana tombang
Nonap-nonap cik dayang tidou
Juragan Mudi di Pangkal Sialang.

Tang Ketutang Losong Batu
Batang Kompe dodapnyo ome
Batang sialang lindunganku
Dilupo aku takut takome.

Nempuing pait ongkau pait
Disombou an ke mato ai
Ja an ditogou juagan nak naek
Katokan anak tupai belaii

Ritual ini dilakukan dengan memusatkan pikiran menyatu dengan pohon sialang dan mulailah memanjat tangga panjang sampai ke dahan pertama yang disebut dengan Jombang.

Tahap II :
Dari dahan I (Jombang) terus ke atas yang disebut dengan Balai Tengah, maka Juragan Mudo melanjutkan pembacaan mantera, yaitu :
Mengombang kemano obung
Puting beliung samo tonga
Tabik aku dahan jombang
Aku nak naik ke bolai tonga

Lalu juragan terus naik ke dahan yang lebih tinggi, dimana di situ terdapat sarang lebah yang dituju (yang disebut dengan balai tonga).

Tahap III :
Setelah sampaidi sarang lebah, sebelum mengambil madu, perlu dibaca mantera memuji lebah tersebut, yaitu :

Balai Tonga duo eto
Tigo balai talendak bumi
Letak bandan poning kepalo
Menengok cantiknyo balai ini

Masak bua kombang mani
Masak sebutei di jaut ungko
Kami betomu si itam mani
Mengulang daa kemuko

Setelah itu Juragan Mudo menyapu lebah dengan asap tunam ke sekeliling sarang lebah lalu mulai lagi membaca mantera dengan maksud agar lebah pergi.

Ceocap tobang kelaman
Tobang meulang-ulang ke pintu
Menyampaikan ucap ajo Sulaiman
Menyapu bola penunggu pintu.

Jika masih ada lebah yang belum mau pergi maka dilanjutkan pembacaan mantera agar semua lebah pergi meninggalkan sarang :

Anak Buayo mudik mendudu
Mai singgah ke pelabuhan
Putih kuning bukakan baju
Kami menengok petabuhan

Setelah lebah pergi maka juragan mudo mulai menyapu sarang lebah dan dibawahnya ditampung dengan timbo dan setelah penuh diturunkan ke bawah dengan tali yang tersedia sambil mendendangkan monto sebagai berikut :

Bo anak tupai bolang
Bolang sampai jai kakinyo
Selamat ojuang menyoboang
Ojuang sarat seisinyo.

Demikian terus sampai ke sarang lainnya pula sampai selesai.
Dari satu sarang lebah di bagian yang dekat dengan dahan kayu disebut Kepala Sarang yang berisi madu, sedangkan bagian tengah disebut lambuk (perut sarang) yang berisi anak lebah, sedangkan yang terletak diujung bawah sarang disebut pula ujung lambuk (ekor sarang) yang berisi lilin lebah atau tahi lebah.

Setelah selesai dan akan turun didendangkan pula monto untuk minta izin turun :

Temasu kayu di imbo
Dibuat papan belariak
Tubonsu ja an maibo ibo
Isuk kolam naik balek
Ramo-ramo sikumbang jati
Duo ancak ketigo ancang
Ja an lamo dayangku poi
Duo bulan ketigo lah datang
Sobab :
Antu kayu ta ogu-ogu
Dahan panjang tenanti-nanti
Menanti kau datang.

Juragan mudopun turun dan kegiatan menumbaipun selesai. Hasil madu yang didapatkan dibagi-bagi untuk para pekerja, Kepala Suku dan anggota suku sesuai dengan aturan yang berlaku menurut adatnya

ATRAKSI SENI DAN BUDAYA
Sebagai bekas sebuah Kerajaan, Kabupaten Pelalawan kaya akan aktifitas Seni dan Budaya yang masih dipertahankan dan digelar pada kegiatan-kegiatan tertentu baik itu pada pemberian gelar pembesar maupun penobatan lainnya sesuai dengan yang telah diwariskan oleh Sultan-sultan terdahulu.
Berbagai aktifitas kesenian tumbuh dan tetap dilestarikan dikalangan masyarakatnya, seperti :

Seni Sastra : Nyanyian Panjang, Pantun, Bidal, Menumbai, dll
Seni Musik : Gambus ,Kompang, Gendang, Nafiri, Ketobang, Gambang, dll.
Seni Musik : Gambus ,Kompang, Gendang, Nafiri, Ketobang, Gambang, dll.
Seni Tari : Zapin, Joget, Bagendong, Belian, Badewo, Silat Payung, dll

Seni Kerajinan : Anyaman Pandan. Daun Kopau, Bambu, Pertukangan Kayu, sulaman dan lain-lain.

FASILITAS PENDUKUNG
Pada saat ini Fasilitas pendukung sudah berkembang cukup signifikan sejalan dengan peningkatan pembangunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. Di Kota Pangkalan Kerinci (Ibukota Kabupaten Pelalawan) terdapat beberapa hotel yang siap menerima wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten ini, diantaranya :

1. HOTEL UNIGRAHA (Bintang 3) , Komplek RAPP, Pangkalan Kerinci
2. HOTEL FANBINARI (Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
3. HOTEL DIKARAYA PRATAMA (Melati), Jl. Lintas Timur Pangkalan Kerinci
4. HOTEL AINI (Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
5. HOTEL MERANTI (Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
6. WISMA INTAN BERSAUDARA, Jl. Dahlia – Pangkalan Kerinci
7. WISMA DINDA, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
8. HOTEL DANGAU (Melati), Jl. Lintas Timur Sorek.
9. PENGINAPAN SARDELA, Jl. Lintas Timur – Sorek, dll

Demikian juga halnya dengan Restoran/Rumah Makan siap menjamu selera wisatawan dengan berbagai menu yang membangkitkan selera, diantaranya :

1. RM. YURIKA (Restoran Khas Melayu), Jl. Akasia – Pangkalan Kerinci
2. RM. IKAN PATIN RITA (Restoran Khas Melayu), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
3. RM. MINANG RAYA, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
4. RM. SEDERHANA, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
5. RM. LUBUK IDAI (Khas Ikan Bakar), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci, dll

Juga tersedia Taman Pemandian/Kolam Renang, Fitness Center, diantaranya :

1. TAMAN PEMANDIAN FANBINARI, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
2. KOLAM RENANG MUTIARA, Jl. Jambu – Pangkalan Kerinci
3. GUFRON BODY MUSCLE, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar